keheningan kian melengkapi rasa kesepian yang aku punya, di
iringi dengan indahnya sayup-sayup suara
musik di dalam hands free semakin mebuatku semangat untuk menorehkan sesuatu di
atas lembaran Microsoft word
terdiam sejenak,
berfikir untuk mencari topik yang akan ku ketik
terlintas, tema
cinta yang sangat kaya akan cerita
namun, ku fikir
dua kali untuk mengawalinya, jengah menulis seuatu tentang cinta, karna tak
urung endingnya hanya akan menyakitkan atau mengenaskan, jika tidak patah hati
atau di tinggal mati bahkan di khianati
tapi, bukankah
cinta itu memang luas untuk di bicarakan
tak harus cinta
antara laki-laki dan wanita kan,
karna ibu dan anak pun adalah hubungan percintaan, kakak dan adik, dan yang
terpenting harusnya adalah hubungan percintaan antara hamba dan Tuhannya
ku coba untuk menelaah
kembali hubungan percintaanku dengan Tuhan, sudahkah memiliki kualitas yang
cukup baik, untuk di hantarkan pada tahap yang lebih tingggi. Dan, peristiwa beberapa
waktu belakangan ini pun menjadi salah satu faktor pendukung yang mempengaruhi
peningkatan atau penurunan kualitas percintaanku kepada Sang Pemilik Jagad Raya
semakin sakit memang
rasanya, tapi aku jadi mengerti
ternyata yang lalu
tidak terlalu menyakitkan, di bandingkan dengan yang sekarang. Dan hasil yang
cukup memuaskan, adalah semakin kuat menerima kenyataan, biasanya merana,
meratapi, dan menangis terseduh-seduh
kini hanya
berkaca-kaca sambil tersenyum, karena memang sulit untuk menangis
berusaha mengalahi
rasa, dan membiarkan setan yang memenangkannya, tapi maaf sayangnya tak jua ku
larut dalam buaian makhluk terkutuk itu, dan entah kenapa aku justru merasa
begitu kuat Rabbi…
aku merasa jadi
lebih mengerti akan hakikat diri, aku merasa lebih dekat selangkah dengan Mu,
dengan Rosul Mu pula pastinya, dan aku merasa begitu ringan
rasa dengki, iri
hati, marah, benci, protes itu tetap ada ketika melihat sekeliling tengah
bahagia, dan jiwa ini pun menjadi merasa merana
namun, sekali lagi
I feel, I get life miracle…
semakin ku turuti
untuk iri, dan “okey fine, aku takkan mengelak dari rasa iriku, aku jalani dan
takkan ku tampik, sekarang apa yang engkau mau wahai setan yang ada di dalam
diri”
dan dia pun hanya
terdiam, seolah ingin mengatakan “ya sudah aku akan musnah dari mu, karna iri
memang bukan dirimu”
dialog yang memang
cukup aneh, tapi itu yang kurasakan
aku kian kuat dan
tegar menghadipinya, aku semakin ringan, dan semakin paham, bahwa prinsipku dan
keyakinanku perlahan namun pasti tlah merasuk dalam jiwa dan ragaku, menjadi
tolak ukur untukku memilih, menjalani dan bersikap dalam kehidupan yang aku
miliki, yakni “aku hidup untuk Mu, dan kembali kepada Mu, hidup yang telah Kau
berikan adalah jalanku untuk dekat kepada Mu, dan meski cara yang telah
tertempuh hingga detik ini yang tertuang dalam rangkaiaan peristiwa tak mutlak
semuanya adalah karna ulahku, namun karna campur tangan Mu pula, tugaskulah
memilah dan memilihnya, hingga aku tersadar jika aku salah maka aku harus
memperbaiki nya”
thank’s for
everything, and You are my everything, one again You give me something special
for my life God… Cinta Mu Ya Allah

